
#HaiBunda, aku seorang ibu dengan satu anak lelaki berusia 1 tahun yang memiliki prinsip hidup tidak mudah berutang. Pikiran itu datang karena kedua orang tuaku sendiri mengajarkan hal itu padaku.
“Kamu tahu siapa orang yang paling bahagia?” Tanya ibuku pada suatu hari.
“Siapa?” Aku balik bertanya karena tidak tahu jawabannya.
“Ayahmu,” jawab ibu. “Karena beliau tidak memiliki utang,” tambah ibu lagi.
Itu adalah cerita yang selalu ibu banggakan sambil menyiratkan sebuah pesan agar anak-anaknya jangan sampai bermudah-mudahan terhadap utang.
Deg! Begitu batinku setiap mengingat percakapanku dengan ibu mengenai satu hal itu di tengah kondisi rumah tanggaku yang kini dipenuhi utang yang menumpuk.
Berawal dari suamiku yang ganti ponsel baru sehingga semua aplikasi masih terbuka dengan bebas, belum diatur penguncian segala macamnya, membuatku iseng membuka riwayat belanja di marketplace akun suami.
Kupikir aku tak akan memperoleh riwayat paylater lagi karena kami pernah perang begitu hebat setelah ia ketahuan olehku melakukan pinjol dan menggunakan paylater setahun yang lalu. Bahkan saat itu aku membantunya mengatur keuangan sampai utang-utangnya benar-benar lunas.
Deg! Batinku kembali berdetak kuat. Napasku seketika sesak. Aku tidak ingin berada di momen itu lagi untuk yang kedua kalinya. Momen ketika harus mengetahui kenyataan bahwa suamiku lagi-lagi berurusan dengan paylater!
Salah satu hal yang kubenci dan melanggar salah satu prinsip yang kami sepakati dalam pembahasan sebelum menikah. Rupanya sesederhana melanggar prinsip pun bisa membuat seorang pasangan merasa terkhianati.
Mataku menelusuri satu persatu barang-barang paylater dalam riwayat belanjanya itu. Aku merasa sangat malu dan sedih karena ternyata isinya barang-barang yang begitu remeh, seperti mainan anak seharga empat ribu rupiah. IYA! EMPAT RIBU RUPIAH!
Hal yang paling membuatku sesak adalah aku ingat bagaimana suamiku mengarang cerita bahwa ia memperoleh mainan-mainan tersebut dari teman kantornya karena anak teman kantornya sudah besar dan mainan tersebut sudah tidak dimainkan lagi, tetapi masih bagus, begitu karangnya dengan lihai.
Aku merasa nelangsa, bagaimana sehari-hari aku memburu diskon dan mencari barang dengan harga termurah, sementara suamiku menggunakan paylater yang mana nantinya pembeli harus membayar lebih besar dari harga yang seharusnya.
Tak cuma satu-dua barang, tetapi begitu banyak. Aku kembali kecewa saat menemukan kimbap (makanan khas Korea) di daftar paylaternya.
Aku ingat bagaimana malam itu ia pulang membawakan makanan favoritku itu. Tentu sambil mengarang cerita soal dari mana ia mendapatkannya. Iya! Tak hanya soal paylater yang membuatku sakit, tetapi juga kepandaiannya dalam membohongiku meski itu hanya hal kecil. Anehnya lagi betapa aku memercayainya.
Maksudku, suamiku.. kamu tak perlu repot-repot membahagiakanku. Aku lebih suka kamu yang jujur, dibandingkan aku dibuat bahagia dengan cara yang salah.
Kini suamiku resign dari pekerjaannya dengan tabungan kami yang tak seberapa. Dengan terpaksa kami tak melanjutkan sewa kontrakan rumah di kota dan pindah ke rumah orang tuaku yang tak terpakai di daerah lain. Tak lupa kujual emas milikku untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama kebutuhan anak kami. Doaku pada Tuhan, semoga aku tabah sambil menunggu hal-hal indah terjadi di masa depan, yakinku dalam hati…
– Bunda N, Bogor –
Mau berbagi cerita juga, Bun? Yuk cerita ke Bubun, kirimkan lewat email [email protected]. Cerita terbaik akan mendapat hadiah menarik dari HaiBunda.
(pri/pri)