Serious mother teaching daughter-in-law to behave, sissy boy, family relations
Jakarta

#HaiBunda, aku rasanya kok sering kali mendengar banyak keluhan dari para Bunda tentang mertua mereka. Tak disangka, hal itu malah aku rasakan sendiri kini. Bisa dibilang mertuaku super duper nyebelin banget Bun!

Dua minggu sebelum aku dan suami menikah, mertua meneleponku. Tanpa basa basi, dia minta pernikahanku untuk dibatalkan, sedangkan aku sudah bayar DP mulai dari dekorasi hingga katering. Pada waktu itu, aku mengiyakan dengan syarat dia harus mengganti rugi uangku yang udah dibayar untuk DP. Meski begitu, setelah melalui beragam diskusi, akhirnya kami tetap melanjutkan pernikahan.

Singkat cerita, aku pun hamil tak lama setelah menikah. Bukannya merasa bahagia karena akan segera mendapatkan cucu, mertuaku malah berkata nyinyir, “Baru juga nikah, udah ngomongin hamil aja, ntar aja kalo udah setahun baru punya anak.” Ya ampun Bunda.. saat itu aku sangat merasa sakit hati!

Dalam hati aku berpikir, “Punya anak salah, enggak punya anak lebih salah…”

Tak cuma itu, tiap akhir bulan saat gajian tiba, mertua selalu menelepon suamiku dan memintanya untuk mampir ke rumahnya. Selalu seperti itu setiap bulannya. Gaji suamiku sebesar Rp5 juta, tapi ia selalu memberiku nominal yang tidak pasti setiap bulannya. Kadang aku menerima Rp1,5 juta hingga Rp1,8 juta.

Pada 2021, aku kebobolan dan hamil anak kedua saat anak pertamaku masih 1 tahun. Saat itu, mertuaku marah. Ia berkata, “Anak masih kecil, ekonomi juga sulit malah nambah anak lagi, udah tau lagi kekurangan uang.” Aku berusaha tutup kuping dengan sikapnya dan berusaha fokus menjalani kehamilan.

Anak keduaku pun lahir pada Juli, tapi di akhir Desember 2022 suamiku terkena PHK.. Setelah suami tak punya pekerjaan, mertua sudah tak pernah lagi menelepon dan memintanya untuk datang ke rumahnya.

Tak berdiam diri, aku pun langsung mencari kerja dan Alhamdulillah diterima di sebuah perusahaan. Setahun bekerja, aku hamil lagi anak ketiga. Aku dan suami memang sepakat tidak menggunakan alat kontrasepsi.

Saat mengetahuinya, mertuaku tambah murka. Ia marah karena aku hamil saat suamiku masih berstatus pengangguran.

Padahal aku sengaja tidak memberitahunya dulu karena aku tau bagaimana reaksinya. Entah dari mana ia akhirnya mengetahui hal tersebut. Tiba-tiba dia meneleponku sambil menangis, “Pusing tau enggak dengar kamu hamil lagi, langsung sakit kepala, udah tau papanya lagi nganggur, ngapain punya anak lagi?!”

Ada pula kalimatnya yang secara enggak langsung meminta aku buat menggugurkan kandungan aku. Jahat banget Bunda! Padahal selama ini dia jarang sekali membantu kami, bahkan hampir tidak pernah.. Lalu kenapa dia merasa pusing dan marah saat tahu aku hamil?

Tak pernah rasanya aku mendengar kata ucapan syukur dari mulutnya atas apa yang udah kita dapatkan (yaitu anak).. Padahal cucunya cuma dari aku saja.

Belum lagi kini dia sering sekali membandingkan suami dengan adiknya yang sekarang sudah mendapatkan pekerjaan yang bagus. Sejak adik iparku kini memberinya uang yang lumayan banyak, mertua kerap kali menyindir suamiku bahkan saat di depan banyak orang. “Nih kayak adek lu dong ngasih gue duit banyak, lu mana pernah begini ke gue?”

Aku bingung Bunda, kenapa dia mengukur anak-anaknya dari uang yang diberikan. Kenapa dia juga seperti tak bisa bersyukur atas dan selalu mau menang sendiri…

– Bunda N, Jakarta –

Mau berbagi cerita juga, Bun? Yuk cerita ke Bubun, kirimkan lewat email [email protected]. Cerita terbaik akan mendapat hadiah menarik dari HaiBunda.

(pri/pri)

Uncategorized

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>