asian mother taking care her baby without patience sitting floor at home has postpartum depression and crying infant is lying on crib
Jakarta

#HaiBunda, kehidupanku setelah melahirkan ternyata tidak seindah yang dibayangkan. Khayalan manis tentang menjadi seorang ibu baru yang mengasuh sang anak dengan suka cita nyatanya tidak kurasakan.

Masa-masa setelah melahirkan anak pertamaku berjalan begitu datar dan seakan penuh dengan kesunyian..

Sebenarnya, suami dan keluargaku semua bersikap baik, hanya saja entah mengapa aku merasa sendirian..

Aku merasa tidak punya siapa pun kecuali anak dan suamiku. Mungkin rasa itu muncul karena memang kami tinggal di pedesaan yang lumayan jauh dari rumah keluarga. Terlebih suamiku bekerja dari pagi sampai sore, menyisakan aku dan anakku saja di rumah.

Setiap harinya, semua berjalan normal seperti biasa. Hanya saja setelah melahirkan, aku selalu merasa sendiri, membesarkan, mengurus anakku sendiri, tanpa bantuan siapa pun kecuali suami.

Orang tuaku pun sudah tidak ada.. Jadi saat awal-awal melahirkan aku selalu menangis. Aku berpikir apakah ini yang dinamakan baby blues atau aku hanya terlalu lelah karena harus melakukan segalanya seorang diri.

Saat anakku sakit, aku harus ke rumah sakit sendirian dua kali. Saat itu, aku benar-benar merasa sedih Bun..  Aku merasa tidak ada yang peduli dengan keadaanku.

Aku pun kerap berandai-andai, kalau saja ayah dan ibuku masih ada, ini semua tidak akan terjadi. Perasaan sedih ini tak akan ada!

Aku selalu iri melihat teman atau saudara yang selalu dibantu oleh orang tuanya, sedangkan aku tidak.

Pada akhirnya, aku merasa harus menyingkirkan semua perasaan itu demi anakku. Aku pun memutuskan untuk ikut banyak komunitas, dan aktif berbagi cerita dengan para Bunda lain.

Alhamdulillah, ternyata dengan cara itu aku menemukan solusinya. Sejak lebih aktif bersosialisasi, aku merasa tidak sendiri lagi. Kini aku selalu berdoa, semoga aku dan suami selalu sehat dan panjang umur agar selalu bisa menemani anak kami.

Akhirnya aku sadar, tidak ada yang benar benar peduli pada kehidupanku, kecuali aku mau mengubah kesedihan ini menjadi Bunda yang kuat untuk anakku.

– Bunda A, Jakarta –

Mau berbagi cerita juga, Bun? Yuk cerita ke Bubun, kirimkan lewat email [email protected]. Cerita terbaik akan mendapat hadiah menarik dari HaiBunda.

(pri/pri)

Uncategorized

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>